Selesai melihat Komodo di Pulau Rinca, saya menjajal Pinisi yang lebih kecil, Levilia. Berdasarkan penelusuran di internet, kapal ini dipatok sekitar Rp11 juta untuk berlayar selama 3 hari 2 malam. Dengan harga yang lebih murah, tentu fasilitas yang diberikan tak sebanyak tawaran Helena.

Kapal ini hanya terdiri dari dek dua tingkat. Pada bagian dek utama, terdapat ruang makan terbuka di bagian depan kapal, ruang nakhoda di bagian tengah, ruang makan tertutup di belakang ruang nakhoda.

Sementara pada bagian atas, terdapat ruang tempat tidur bunk bed untuk 4 orang yang dilengkapi dengan kamar mandi dalam.

Di bagian lambung kapal juga ditempatkan empat kamar tidur privat, double bed dengan toilet. Semua kabin dilengkapi dengan pendingin udara.

 

 

 

Kapal juga menyediakan tempat bersantai di ujung depan kapal. Pilihan lainnya ada di bagian atas kapal di belakang kamar. Penyedia kapal menyediakan beberapa bean bag agar penghuni bisa duduk santai.

Namun, fasilitas kapal ini memang tidak semewah Helena. Kamar makan dalam lebih sempit. Meja makan di luar pun terdiri dari bangku kayu yang lebih sederhana dari Helena. Kasur dan desain kamar tidur kapal ini pun lebih sederhana.

Untuk menu makanan, kapal ini terbilang cukup royal memberikan cemilan bagi penumpangnya. Sarapan pagi, makan siang, hingga camilan sore kerap disuguhkan. Menu makan siang yang disuguhkan memang lebih sederhana dari Helena, namun tetap menggungah selera.

Sebagai penumpang gelombang dua, saya sempat mencicip siomay dan pisang goreng lokal sebagai kudapan sore yang menghangatkan perjalanan pulang kembali ke Labuan Bajo.

 

 

“Harga sewa kapal Phinisi labuan bajo berbeda-beda tergantung EO-nya [agen perjalanan] saya tidak berani bilang” jelas warga Manggarai Barat yang juga ikut mengadu nasib sebagai pendatang di Labuan Bajo itu.

Menurutnya, EO kerap mematok harga berbeda untuk sewa kapal ini. Harga yang dilego bisa dari Rp40 juta hingga Rp100 juta untuk perjalanan per hari. Ketika ditelusuri di Booking.com, kapal ini memang dipatok Rp40 juta per malam.

Layanan kapal ini juga terbilang istimewa. Sebab, kami disuguhi dengan handuk dingin setelah selesai berjalan di Pulau Rinca yang panas.

Di atas kapal, jus semangka dingin pun telah menanti. Untuk makan siang, kami pun disuguhi pilihan menu ala Barat yang terbilang nikmat.