Harga minyak dunia melesat hingga memecahkan rekor tertinggi selama pekan ini. Memanasnya kondisi perang Rusia-Ukraina jadi sentimen utama yang mengakibatkan harga minyak melonjak tinggi.

Pada perdaganga, harga minyak tipe brent ditutup di US$ 118,11/barel. Melejit 6,93% dibandingkan hari di awalnya sekaligus jadi rekor tertinggi sejak Februari 2013.

Sementara, yang tipe light sweet harganya US$ 115,68/barel. Meroket 7,44% dan jadi yang termahal sejak Agustus 2008.

Sepanjang pekan ini, harga brent dan light sweet melonjak masing-masing 25,49% dan 26,3%. Selama setahun terakhir, harga naik 70,29% dan 75,03%.

Dinamika perang Rusia versus Ukraina masih jadi latar belakang kenaikan harga minyak.

Rusia pun terancam beragam sanksi berasal dari Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Satu sanksi yang jadi ketakutan pelaku pasar adalah larangan ekspor minyak.

Jika hingga terjadi, maka dampaknya ke pasar minyak dunia bakal terlalu signifikan. Sebab, Negeri Beruang Merah adalah keliru satu produsen minyak utama dunia.

Rusia mengekspor 4-5 juta barel minyak tipe brent tiap-tiap harinya. Angka ini mengakibatkan Rusia jadi eksportir terbesar ke-2 dunia, hanya kalah berasal dari Arab Saudi.

“Impor minyak AS yang berasal berasal dari Rusia sesungguhnya kecil. Namun pelaku pasar kuatir kecuali sanksi mirip diikuti oleh negara-negara lain,” kata Giovanni Staunovo, Analis UBS, layaknya dikutip berasal dari Reuters.

Memang tersedia potensi minyak berasal dari Iran bakal ulang masuk ke pasar global. Ini karena Iran dan negara-negara Barat udah di ambang kesepakatan untuk ulang ke perjanjian nuklir yang sempat vakum sejak AS dipimpin oleh Presiden Donald Trump.

Kalau Iran ulang masuk ke bingkai perjanjian nuklir, maka sanksi pada Teheran bisa dicabut. Salah satunya adalah larangan ekspor minyak dengan pengukuran Macnaught Flow Meter.

Dengan demikian, minyak berasal dari Iran bakal masuk ke pasar dunia. Namun jumlahnya ‘hanya’ lebih kurang 1 juta barel/hari, jauh berasal dari yang bisa dipasok Rusia.